Kamis, 24 Desember 2009

Teologi Agama

1. Hubungan politik dengan telogi

Penyelesaian sengketa antara Ali ibn Abi Talib dan Mu’awiah Ibn Sufyan dengan jalan arbitrase oleh kaum Khawarij dipadang bertentangan ajaran Islam, berdasarkan Q,S Al-maidah(5):44. Siapa yang tidak menentukan hukum dengan. Apa yang diturunkan tuhan adalah kafir “.
Dengan demikian Ali, Mu’awiah, Abu Musa Al asy’ari dan Amr-Acs,menurut mereka, telah menjadi kafir. Kafir dalam arti keluar dari Islam., yaitu murtad, dan orang murtad wajib di bunuh. Merekapun memutuskan untuk membunuh ke empat pemuka itu.
Kafir ialah orang yang tidak percaya dan mu’min adalah, orang yang percaya pada Nabi Muhammad ajaran yang beliau bawa. Dengan kata lain,kata kafir di pakai untuk golongan di luar Islam. Tetapi kaum Khawarij memakai kata itu untuk golongan yang berada di dalam Islam sendiri. Di kalangan orang Islam dalam faham Khawarij telah ada orang yang bersifat kafir. Dengan demikian kata kafir mulai berobah dalam arti.

2.Kedudukan orang yang berbuat dosa besar dalam perspektif aliran-aliran teologi

Kaum Murjiah membawa faham yang sama sekali bertentangan dengan pendapat Khawarij. Orang Islam yang berdosa besar bagi mereka tidak menjadi kafir, tetapi mukmim. Soal dosa besarnya diserahkan kepada keputusan Tuhan kelak di hari perhitungan. Kalau dosa besarnya diampuni Tuhan, ia segera masuk surga, kalau tidak ia akan masuk neraka untuk waktu yang sesuai dengan dosa yang dilakukannya dan kemudian masuk surga.
Kaum Murjiah berpendapat bahwa orang Isam yang melakukan dosa besar masih mengucapkan kedua syahadat, masih orang mukmin dan bukan kafir atau musyrik. Orang Islam yang demikian mungkin masih mempunyai perbuatan-perbuatan baik yang akan menjadi imbangan bagi dosa besarnya kelak di perhitungan.
Kaum Murji’ah berpendapat bahwa perbuatan tidak dapat dipakai sebagai ukuran untuk menentukan Islam atau kafirnya seseorang. Yang menentukan hal itu adalah iman yang di dalam hati.
Ahli sunnah juga berpendapat bahwa orang Islam yang berdosa besar bukanlha kafir, tetapi tetap orang Islam. Soall dosa besarnya diserahkan kepada Tuhan untuk diampuni atau tidak diampuni, tetapi akhirnya ia masuk surga juga.

3.Jabariah dan Qadariah tentang kemauan dan perbuatan manusia

Faham Qadariah dipelopori oleh Ma’bad Al_Juhani dan Al-Dimasygi. Menurut faham mereka manusialah yang mewujudkan perbuatan-perbuatannya dengan kemauan dan tenganya. Manusia dalam faham Qadariah mempunyai kebebasan dalam kemauan dan kebebasan dalam perbuatan.
Faham Jabariah dipelori oleh Al-Ja’ad Ibn Dirham dan Jahm Ibn Safwan. Menurut faham Jabariah perbuatan manusia diciptakan Tuhan dalam diri manusia. Dalam faham ini manusia tidak mempunyai kemauan dan daya untuk mewujudkan perbuatannya.

4.Lima ajaran dasar Mu’tazillah (Ushul al-Khamsah)

Kaum Mu’tazillah dikenal mempunyai lima ajaran dasar : Al-Tahwid, Al-‘Adl, Al-Wa’ad wa Al-Wa’id, Al-Manzillah bain Al-Manzilatain dan Al-Amr bi Al-Ma’ruf serta Al-Nahy Al-Munkar.
Yang dimaksud dengan Al-Wa’ad wa Al-wa’id ialah bahwa Tuhan akan melaksanakan janji baik dan ancamannya. Kalau tidak dilaksanakan. Tuhan akan bersifat tidak adil. Apa yang dimaksud dengan Al-Manzilah bain Al-Manzilatain telah diterangkan diatas, dan ini hubungannya juga erat dengan faham keadilan menyuruh berbuat baik dan melarang berbuat jahat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar